Kesadaran Profetik untuk Bertahan Hidup

Oleh: Mokhamad Asyief Khasan Budiman*)

Hingga kini, kita mungkin sedang terjebak pada istilah new normal yang seolah hanya untuk kasus-kasus tertentu, seperti resesi global tahun 2008-2012, atau pandemi global Covid-19 sekarang ini. Seolah pemikiran kita hanya tertuju pada hal-hal yang tidak mengenakkan  semata. Padahal, bila menilik sejarah manusia, berbagai macam kondisi untuk mempermudah kinerja dan efektifitas kerja manusia, merupakan sebuah new normal di tiap periode kehidupan manusia.

Hingga detik ini, boleh jadi kita hanya memandang new normal hanya penerapan aturan yang cenderung teknis mekanistik. Padahal bila ditilik lebih jauh, penerapan aturan yang cenderung memaksa kita untuk beradaptasi dengan kondisi pandemi ini telah mengajarkan hal penting bagi paradigma kita. Karena saat ini pun kita hanya terjebak pada ketergantungan akan teknologi dan informasi, tanpa kedua hal tersebut kita tak mampu mengerjakan apapun untuk memenuhi kehidupan keseharian.

Bila dibandingkan dengan kondisi masyarakat prasejarah, yang hanya menjadi pemburu dan pengumpul, mereka tetap mampu memenuhi kehidupan keseharian tanpa mengkhawatirkan faktor penyakit. Hal tersebut terjadi karena tubuh mereka lebih kuat dan tahan banting dengan berbagai cuaca, sumberdaya alam masih sangat melimpah, dan tidak ada koneksi secara global sebagai jalur penularan penyakit seperti sekarang.

Sebuah jalan yang mesti ditempuh new normal yang sering digaungkan merupakan suatu bentuk adaptasi akan ancaman wabah yang mendunia. Oleh karenanya pemerintah perlu melakukan berbagai macam adaptasi selain di bidang kesehatan. Penggalakkan dan sosialisasi mengenai sumber dari munculnya wabah penyakit menular ini semestinya meninjau faktor lingkungan.

Penanganan masalah-masalah lingkungan sangat memungkinkan bila kita secara bersama-sama membangun sebuah kesadaran profetik secara kolektif. Diantaranya; Yang pertama, ialah penerapan new normal tidak hanya pada pembatasan aktivitas keseharian sesuai dengan protokol kesehatan. Akan tetapi, memperketat kemungkinan munculnya sumber-sumber penyakit lainnya juga semestinya dilakukan. Hal ini dapat dicapai dengan menertibkan pasar-pasar perdagangan satwa liar terutama pasar perdagangan ilegal.

Penanaman mangrove di pesisir Karawang. Hal yang bisa dilakukan untuk menekan laju kerusakan lingkungan.(dok. MAK Budiman)

Kemudian perlu juga melakukan pencegahan secara jangka panjang kemungkinan pandemi penyakit lainnya dengan menjaga iklim tetap stabil. Kondisi ini dimungkinkan bila kita mampu menurunkan emisi karbon ke level yang cukup signifikan. Setidaknya pada level sebelum munculnya industri-industri yang dengan cepat melepas karbon ke udara.

Cara yang dapat ditempuh ialah menghemat energi bagi masyarakat luas, dan pemerintah perlu merencanakan secara serius dalam wacana mengganti penggunaan energi fosil dengan energi terbarukan. Menjaga hutan dari kerusakan dan kebakaran juga menjadi sebuah keharusan.

Masyarakat dapat membantu melalui penggunaan produk pertanian dan kehutanan yang telah tersertifikasi dan terbukti ramah lingkungan. Pada poin ini, sertifikasi yang dilakukan juga merupakan jaminan pengelolaan industri pertanian dan kehutanan ini dilakukan secara baik dengan menerapkan prinsip-prinsip kelestarian.

Ke dua, kita mampu membuat kondisi new normal yang lebih baik untuk kesehatan lingkungan bila kita dapat menerapkan paradigma lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Kepedulian kita pada masyarakat desa atau masyarakat adat akan berpengaruh secara nyata pada proses penetapan kebijakan yang berhubungan dengan lingkungan.

Masyarakat perkotaan ataupun pedesaan pun bisa mendapat jaminan kesehatan dengan menerapkan prinsip-prinsip kesehatan lingkungan. Hal ini dapat diperoleh melalui tindakan-tindakan budaya bersih seperti membuang sampah pada tempatnya, mengelola sampah secara mandiri maupun secara kolektif, penggunaan sistem sanitasi dan pengolahan limbah cair secara baik, serta penggunaan pupuk dan pestisida alami untuk produksi pertanian.

Pada tahap ini, petani perlu meyakini bahwasanya produk alami akan mendapatkan harga lebih baik dan aset lahan yang dimilikinya akan tetap optimal. Konsumen produk pertanian pun sebaiknya menelisik produk yang dikonsumsinya, apakah organik atau dikelola dengan pupuk dan pestisida kimia.

Konsumen semestinya pun sadar tentang bahayanya residu kimia yang dapat menumpuk di dalam tubuh. Bahayanya bila suatu hari dapat menjadi suatu penyakit tersendiri atau menjadi penyebab menurunnya imunitas tubuh. Hal ini dapat memicu mudahnya terserang penyakit menular yang berasal dari luar tubuh, salah satunya yang berasal dari hewan.

Ke tiga, kebijakan pemerintah baiknya tidak hanya soal penerapan protokol kesehatan. Akan tetapi pada protokol penyelamatan lingkungan hidup yang berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap penyakit. Melimpahnya sumberdaya alam di dalam negeri menjadi suatu berkah tersendiri bila pemerintah berani untuk mengeksplorasi lebih jauh manfaat dari sumberdaya alam yang dimiliki.

Penelitian-penelitian terkait berbagai macam obat penyakit-penyakit berbahaya seperti Covid-19 ini perlu terus didukung. Selain itu penelitian untuk eksplorasi jumlah ketersediaan dan cara budidaya tanaman-tanaman yang berguna semestinya juga diberikan perhatian yang serius. Nampaknya belum banyak yang diketahui tentang kualitas dan kuantitas sumberdaya alam yang terdapat di Indonesia.

Kembali Pada Kebijaksanaan Lokal

Penelusuran manfaat keanekaragaman hayati kita yang bersumber pada kearifan masyarakat adat merupakan sebuah kebijaksanaan yang harus dipelajari. Masyarakat adat yang mana telah memperoleh ilmu turun-temurun dari kearifan tradisionalnya dapat menjadi sumber rujukan dalam rangka mencapai kesadaran profetik. Maka dari itu, perlindungan atas masyarakat adat menjadi salah satu hal yang utama di dalam konservasi keanekaragaman hayati.

Sembari mendukung penelitian, pemerintah perlu menyiapkan skema penyelamatan dengan menegakkan hukum-hukum yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Berbagai macam tindakan yang telah dijabarkan tersebut tentunya dapat dilakukan bila kita semua mau untuk bahu-membahu memperbaiki kondisi lingkungan kita di masa new normal ini.

Pemerintah tidak akan bisa bergerak sendiri bila masyarakat tidak mendukung kebijakannya. Sebaliknya masyarakat tidak akan mampu melalui new normal ini dengan visi kehidupan lebih baik bila pemerintah tak memiliki perhatian pada sektor lingkungan hidup. Untuk itu, mari bergandengan tangan untuk menerapkan kesadaran profetik mengenai paradigma lingkungan dalam kehidupan keseharian kita.**

*) Peneliti Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – LPPM IPB University