Kerusakan Lingkungan dan Bahaya Pandemi

Oleh: Mokhamad Asyief Khasan Budiman*)

Mokhamad Asyief Khasan Budiman     

Kasus pandemi global Covid-19 masih menunjukkan tren yang meningkat. Hingga 4 Juli 2020, pandemi telah menginfeksi lebih dari 11 juta jiwa dan menewaskan lebih dari 524 ribu jiwa. Dampaknya, perekonomian dunia mengalami kemerosotan yang cukup parah. Bahkan IMF memperkirakan, penyusutan ekonomi dunia dapat mencapai angka 5% untuk tahun ini. Kondisi demikian memaksa negara-negara untuk menggalakkan new normal sebagai jalan pintas di tengah pandemi.

Pertama kali istilah new normal untuk kasus Covid-19 ini digaungkan oleh tim dokter yang berasal dari University of Kansas Health System. Mereka melihat pandemi global yang terjadi ini akan merubah tatanan kehidupan keseharian manusia. Mereka percaya, bahwa manusia dapat beradaptasi dan “berdamai” dengan pandemi global ini. Sehingga aktivitas perekonomian dapat ditanggulangi dengan berjalannya new normal. Akan tetapi bila dilihat dari sisi lain ada beberapa hal yang perlu dicatat, terutama dampak aktivitas pembatasan sosial pada lingkungan hidup.

Le Quere et al (2020) menemukan tingkat emisi karbon secara global mengalami penurunan rata-rata 17% tiap harinya, setara dengan 17 juta ton karbondioksida. Hingga awal april 2020 data yang dikumpulkannya tersebut dibandingkan dengan data rata-rata harian pada tahun 2019. Temuan ini telah dipublikasikan melalui jurnal Nature Climate Change dengan judul “Temporary reduction in daily global CO2 emissions during the COVID-19 forced confinement”. Artinya, dengan ada pembatasan dari pemerintah dan penerapan protokol ini, telah mengurangi jumlah emisi global secara signifikan.

Kondisi global yang terjadi, tentunya tak lepas dari kebijakan pemerintah yang menghentikan sementara sebagian besar aktivitas industri, sehingga pola permintaan energi dunia pun mengalami perubahan. Penurunan emisi sebesar itu telah menjadikan level karbon di atmosfer sama dengan level pada tahun 2006.

Tak tanggung-tanggung, dalam tempo beberapa bulan ini dunia telah menurunkan emisi hingga pada level yang sama dengan 13 tahun yang lalu. Menilik kasus tersebut, Le Quere telah membuktikan, bahwasanya penerapan penggunaan energi kita masihlah tergantung pada energi yang memiliki emisi global cukup tinggi. Lalu dengan fakta yang terjadi tersebut, apakah menjalankan new normal nantinya akan mengembalikan emisi karbon seperti semula?

Tentunya kita seharusnya bisa lebih sadar, akan konsumsi energi, kita sangat memerlukan energi terbarukan yang cenderung lebih bersih. Selain itu, memperbaiki kondisi hutan yang berfungsi sebagai penyerap karbon dunia, pun perlu terus dilakukan. Bahkan akan lebih utama lagi bila memperluas hutan yang dapat berguna untuk penyerapan emisi global.

Tren kenaikan energi nasional rata-rata pernah juga dilaporkan oleh kontributor Bisnis.com, Dewi Aminatun Zuhriyah. Ia menuliskan artikel berjudul “PASAR ENERGI INDONESIA : Tren Konsumsi Energi Terus Menguat” pada 28 Oktober 2018. Ia mengungkap bahwa rata-rata konsumsi energi Indonesia pada tahun 2017 mengalami kenaikan sebesar 5% , dimana kenaikan tersebut jauh di atas rerata selama 10 tahun terakhir, yakni sebersar 2,9%. Ia mengingatkan, bahwa pemerintah perlu melakukan sosialisasi untuk kesadaran masyarakat, agar mau hemat energi.

Bahaya penyakit baru lain yang mengancam masa depan manusia ialah adanya potensi penyakit menular dari hewan, terutama satwa liar. Kasus yang ditemukan Shan et al (2020), virus Covid-19 dapat menular juga pada hewan seperti pada Monyet. Mereka mengungkapkan hal ini pada jurnal berjudul “Infection with Novel Coronavirus (SARS-CoV-2) Causes Pneumonia in the Rhesus Macaques” yang diterbitkan melalui Research Square edisi Preprint. Pada paper tersebut, mereka memperlihatkan bagaimana monyet yang terinfeksi virus Covid-19 dan menimbulkan Pneunomia (paru-paru basah) pada hewan tersebut.

Sementara, Patrono et al (2018) pun menemukan adanya Human Coronavirus pada Simpanse liar. Mereka menuliskannya pada jurnal Emerging Microbes and Infection volume 7 issue 1 dengan judul “Human coronavirus OC43 outbreak in wild chimpanzees, Côte d´Ivoire, 2016”. Melihat potensi bahaya yang dapat ditimbulkan, penularan penyakit dari manusia ke hewan atau sebaliknya itu, dapat menjadi vector penyebaran penyakit-penyakit yang sedang mewabah maupun penyakit-penyakit baru. Oleh karenanya, penerapan new normal semestinya juga diterapkan untuk mengontrol aktivitas perburuan dan perdagangan satwa liar secara lebih ketat. Hal ini dikarenakan, terkadang kontrol kesehatan satwa sangat jarang dilakukan, terutama pada perburuan dan perdagangan liar.

Parahnya, ternyata perdagangan dan perburuan liar masih terus terjadi di masa pandemi. Wartawan Mongabay, Ayat S Karokaro pada tanggal 17 Mei 2020 melaporkan masih berlangsungnya perburuan dan perdagangan satwa liar di daerah Sumatera Utara hingga Aceh Tengah. Ia melaporkan hal tersebut melalui judul berita “Wabah Tak Setop Perdagangan Ilegal, Ratusan Burung Mati Saat Proses Pengiriman”.

Pada laporan investigasinya, tertulis sebanyak 1.266 ekor burung pleci (Zosterops japonicus) telah diselundupkan dari Provinsi Aceh menuju Kota Medan Sumatera Utara. Sebanyak 556 ekor diantaranya mati saat diamankan oleh petugas Balai Penegakkan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Balai Gakum KLHK) Wilayah Sumatera. Penyitaan itu dilakukan lantaran satwa-satwa tersebut tidak memiliki izin surat angkut tumbuhan dan satwa dalam negeri.

Tertulis bahwa pelaku memanfaatkan jalur yang lengang akibat adanya pandemi. Laporan ini setidaknya telah memberikan gambaran, bahwasanya perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar masih belum berkurang walau dimasa pandemi global seperti sekarang. Justru pemburu dan pedagang satwa liar di pasar gelap ini memanfaatkan kondisi new normal untuk melancarkan aksi kejahatan satwa liarnya. Bahkan jurnalis National Geographic, Jonathan Kolby pun mengulas perihal perdagangan satwa liar ini. Ia menulis artikel pada laman Nationalgeographic.com dengan judul “To prevent the next pandemic, it’s the legal wildlife trade we should worry about” pada 7 Mei 2020 lalu.

Kolby adalah jurnalis untuk bidang konservasi, biologi, dan ekologi satwa liar yang cukup berpengalaman. Pada ulasannya, ia mengatakan “saya telah belajar bahwa kita perlu berpikir sama kritisnya tentang risiko dan kerentanan yang disajikan oleh perdagangan legal secara besar-besaran, yang terus menempatkan diri kita sendiri dan dunia pada risiko lebih banyak pandemi”. Karenanya, ia menekankan pada tingkat bahaya lompatan penyakit dari hewan ke manusia atau sebaliknya yang dapat menyebar menjadi sebuah pandemi.

Data yang dikumpulkan World Organization for Animal Health menyatakan, sekitar 60% penyakit yang ada pada manusia berasal dari hewan. Penyakit tersebut menular melalui lompatan secara langsung maupun hewan yang berfungsi sebagai vektor. Sehingga, untuk Indonesia, memperketat kontrol perdagangan satwa liar, sudah menjadi keharusan dimasa new normal.

Belajar dari Sejarah

Sejarah telah membuktikan, bahwasanya new normal yang sekarang sedang kita jalani bersama ini, merupakan bukti ketidaksiapan kita dalam menghadapi perubahan secara mendadak. Maka dari itu, perubahan pola konsumsi energi dapat dijadikan sarana menju new normal lingkungan yang lebih sehat.

Meminjam pendedahan yang dilakukan Yuval Noah Harari, sejarawan yang telah menulis buku ternama “Sapiens: a Brief History of Human Kind”. Ia membagi, setidaknya ada empat macam revolusi pada sejarah manusia, yang sekarang telah berubah menjadi new normal.

Pertama, revolusi kognitif manusia. Kondisi ini ditandai dengan ditemukannya api, kemampuan bergosip, dan terciptanya berbagai peralatan alat bantu lainnya.

Ke dua, revolusi pertanian yang ditandai dengan manusia mulai menetap untuk bercocok tanam dan menjinakkan hewan buruan dari yang semula sebagai pemburu pengumpul. Pada era ini new normal sangat kontras terjadi dibandingkan periode sebelumnya. Tatanan masyarakat yang awalnya hidup berpindah, kini menetap dan memiliki kepercayaan-kepercayaan akan kekuatan magis. Bayarannya ialah, manusia perlu mengembangkan seni dalam berpolitik dan juga pengetahuan untuk mempertahankan kesehatan lingkungan tempat tinggalnya. Hukum tata negara pun berkembang, sistem kerajaan berkembang dari yang semula menggunakan sistem kesukuan pada masyarakat pemburu pengumpul.

Ke tiga, penyatuan manusia yang ditandai dengan ditemukannya sistem komunikasi dan keterhubungan antar manusia dengan yang lainnya. Era ini dimulai adanya globalisasi, walaupun pada mulanya koneksi hanya seputar dunia lama untuk motif perdagangan. Perkembangan perdagangan antar wilayah ini menciptakan sebuah kepercayaan global secara bersama-sama, yakni kepercayaan akan moneter. Semua orang percaya bahwa dengan bertukar barang yang sepadan maka tidak akan ada masalah pada kedua belah pihak. Pun demikian dimasa ini mulai diciptakan roda untuk mempermudah pengangkutan barang, hingga pengguanaan mata uang sebagai alat tukar yang berfungsi global.

Pada zaman dahulu, hal ini menjadikan tingkat evolusi manusia terhenti hanya pada tingkat ras. Manusia dengan berbagai macam ras telah mampu menembus dinding pemisah antar kelompok ras satu dengan ras lainnya. Revolusi terakhir, yang diungkap Harari, ialah ada pada revolusi sains.

Pulau Damar, Kepulauan Seribu. Salah-satu masalah lingkungan yang terjadi. (dok. MAK Budiman)

Setidaknya dalam waktu yang singkat (hanya sekitar 3-4 abad) sains begitu berkembang pesat, dan mampu mengubah muka dunia. Revolusi ini, diperlihatkan oleh Harari, dimulai dari renaissance dengan munculnya berbagai macam penemuan-penemuan industry, baik di bidang pangan, kesehatan, dan teknologi informasi.

Sayangnya, kita tidak pernah menyadari, bahwa berbagai macam hal tersebut merupakan new normal yang terjadi selama ini, dan menjebak kita untuk bergantung pada kenyamanan hasil akumulasi new normal-new normal sepanjang sejarah manusia. Pada masa new normal Covid-19 seperti sekarang ini, kiranya pemerinta pun perlu menggalakkan sosialisasi dan kampanye untuk bisa hemat energi. Selain itu, solusi-solusi alternatif yang telah dikemukakan para ahli terkait energi terbarukan, juga dapat ditindaklanjuti, guna menggapai new normal secara jangka panjang.

Perubahan paradigma lingkungan kita, yang semula melihat lingkungan sebagai suatu hal terpisah dari diri kita, pun perlu dirubah. Kini new normal pada bidang lingkungan perlu memposisikan diri kita, yang merupakan satu satuan tak terpisah dari lingkungan tempat kita hidup. Bila hal tersebut tak dilakukan, maka besar kemungkinan pandemi-pandemi penyakit lain ke depan tak akan terhindari.*

*) Peneliti Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – LPPM IPB University