Meski perolehan margin tata niaga hanya sebagian kecil buat petani, namun para pelaku usaha di pedesaan itu tak pernah jera berusaha.  Di tengah pandemic Covid-19 pun petani tidak kenal lockdown.

“Kami disini tidak pernah berhenti. Tiap hari, sejak usai Shubuh sampai waktu yang tidak ditentukan, semua warga desa berangkat kerja. Kami tidak kenal PSBB atau lockdown, meski tahu dan sadar akan ngerinya Covid-19,” tutur seorang petani sayuran di Kampung Arca – Sukawangi, sebuah desa di kawasan timur Kabupaten Bogor.

Rustandi, demikian nama petani itu. Kepada GI dikatakannya, bahwa hingga kini wilayah Puncak Dua aman-aman saja, tidak  ada kasus Corona, apalagi yang meninggal akibat virus yang menghebohkan tersebut. Kawasan Puncak Dua boleh dibilang “zona hijau”. “Sehijau bukit dan lembah di sini,” tuturnya.

Hal senada juga dilontarkan petani lainnya. “Kami dingin-dingin saja, sedingin cuaca di daerah ini,” kelakar Nurhayati, ibu rumah tangga yang juga petani Hortensia di Kampung Arca.  Namun, meski tidak mengeluhkan dampak Covid-19, seperti halnya ibu rumah tangga di berbagai kota, ibu yang sedang hamil lima bulan  itu mengaku kehilangan  penghasilan juga.  Bunga  potong hortensia (panca warna) yang selama ini memberinya penghasilan, kini tidak lagi dipanen, karena sama-sekali tidak ada pembelinya.

Sejak PSBB diberlakukan Pemerintah Indonesia, pasar komoditas bunga bak ‘mati suri’. Mengapa tidak? Karena sejak wabah melanda, orang-orang lebih memperhatikan kebutuhan pangan ketimbang keindahan, pesta atau dekorasi. Akibatnya, nyaris semua kebun bunga di Puncak Dua kini terabaikan, tidak terawat sebagaimana mestinya.

Tanaman dibiarkan begitu saja, dengan harapan bila kondisi normal – pasar bunga kembali buka, baru mereka kembali melakukan pemupukan. Hal demikian, menurut beberapa petani, adalah sebagai antisipasi biaya produksi.

Produksi Sayur Menurun

Seiring maraknya penyebaran wabah corona, cuaca pun tidak menentu. Sejak awal tahun hingga Ramadhan lalu, frekuensi dan curah hujan di kawasan Puncak Dua cukup tinggi.

Dampaknya, beberapa jenis tanaman mengalami penurunan produksi karena terkena penyakit.  Tanaman wortel kelihatan hijau, tapi saat dipanen umbinya kecil-kecil. Brokoli dan aneka sayuran daun lainnya banyak yang terkena karat, menghitam dan kerdil.

 Harga Anjlog

Hukum pasar pun berlaku. Meski petani tetap beroperasi alias tak berhenti berkebun, namun lesunya perekonomian di tanah air, juga dirasakan oleh mereka. Harga beberapa jenis sayuran di tingkat petani anjlog. Pedagang atau para bandar ‘menekuk’ harga beli ke petani cukup rendah dari biasanya, dengan alasan lesunya pasar.

Sejak Ramadhan kemaren hingga beberapa minggu pasca Idul Fitri, tercatat harga wortel di tingkat petani berkisar pada angka Rp 2000,- per kilogram. Wortel adalah komoditas utama di Puncak Dua.

Sementara beberapa sayuran lain juga mengalami nasib yang nyaris sama.  Terong ungu hanya Rp 3000,- per kilogram, sawi putih Rp 1000,-  dan brokoli turun dari sekitar Rp 15.000,,- menjadi kisaran Rp 10.000,- per kilogramnya. Begitu juga tomat, kubis, pakcoy dan sebagainya, semua mengalami penurunan harga di tingkat petani.

Anehnya, begitu masuk ke gudang bandar atau toke antar kota, bila ibu rumah tangga membeli kebutuhan sayur konsumsi (terutama petani bunga – yang tidak punya kebun sayur), semua harga sudah naik rata-rata Rp 2000,- sekilonya. Padahal  masih di lokasi itu, belum keluar dari Desa Sukawangi – Puncak Dua.

Terbukti, memang, perolehan margin tata niaga hanya sebagian kecil buat petani. Yang pasti untung adalah pelaku pasar. ***

***Riz***