Pada prinsipnya tidak ada manusia yang senang menghirup asap kebakaran hutan dan lahan. Baunya tidak sedap. Bila terhirup dada sesak. Mata perih. Dan belum lagi sorot tajam masyarakat sekitar penuh tanya, siapa yang membakar hutan dan lahan ? Merugikan masyarakat banyak.

Monyet pun Mendapatkan Manfaat 

Kebakaran hutan dan lahan tahun 2019 membuat semua pihak sibuk. Bukan hanya pejabat pusat tapi pejabat daerah, termasuk Kepala Desa dan masyarakat juga super sibuk. Kebakaran bukan hanya masalah api. Tapi ini menyangkut kehidupan ekonomi masyarakat, kesehatan dan tentu juga masalah nyawa manusia.

Tahun 2017 melalui kegiatan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) bekerjasama dengan Hutan Kita Institute (HaKI) Sumatera Selatan, dilakukan aksi pilot restorasi gambut  di Kawasan hutan rawa gambut bekas kebakaran. Menurut Suparedy, Kepala Desa Menang Raya Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), “program ini sangat bermanfaat. Kegiatan ini terbukti efektif mengurangi kebakaran lahan dibanding kondisi tahun 2015. Pada tahun 2015 ada sekitar 30 titik api di Desa Menang Raya, tahun 2019 hanya 8 titik api”.

Pernyataan Kepala Desa Menang Raya ini disetujui masyarakat. Secara umum masyarakat merasa kegiatan restorasi gambut yang menanam tanaman jelutung, meranti, pinang, kopi dan nenas secara langsung sudah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selain adanya pekerjaan tambahan bagi masyarakat pada saat kegiatan, pada saat ini nenas sudah berbuah. Buah nenas bukan hanya bermanfaat bagi manusia tetapi monyet di sekitar lokasi juga mendapatkan manfaat buah nenas ini.

Mencegah Kebakaran Lebih Efektif

Masyarakat Menang Raya berkomitmen memelihara tanaman yang sudah ditanam. Berdasarkan pengalaman masyarakat ketika tanaman sudah menjadi hutan, maka akan mendatangkan manfaat ekologi dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Manfaat langsung ekonomi adalah berupa datangnya ikan kalau ada hutan melalui parit-parit yang ada. Ketika banjir datang, akan ada sekitar 7 hari dalam sebulan masyarakat bisa panen ikan jika hutan dalam kondisi baik.

Saat ini jumlah Kelompok Masyarakat Gambut Peduli Kebakaran (KMGPK) makin disenangi warga. Dari kegiatan ICCTF ada tambahan pemuda desa sebanyak 25 orang sebagai anggota KMGPK. Ketika terjadi kebakaran tahun 2019, anggota KMGPK berperan aktif dan menjadi andalan pemerintah dalam memadamkan kebakaran.

Menurut Kepala Desa Menang Raya, “Mencegah kebakaran lebih efektif daripada memadamkan api. Masyarakat bisa diandalkan untuk mencegah kebakaran. Untuk itu berilah insentif pada masyarakat supaya dapat mencegah kebakaran. Tim KMGPK bisa diandalkan dalam mencegah kebakaran dan bukan hanya dilibatkan dalam memadamkan kebakaran”.

***MRi***