Permodalan, bimbingan usaha yang baik, serta infrastruktur yang memadai, merupakan harapan desa-desa yang nyaris merupakan remote area di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

Suatu kolaborasi yang membangkitkan semangat, telah digelar. Desa-desa pun bergairah. Dua kementerian plus sebuah bank nasional, melalui komunitas berpenggerak empat roda (4×4), akhir pekan lalu berhasil menelusuri beberapa desa di dua kabupaten, Bogor dan Cianjur – Jawa Barat.

Kegiatan selama tiga hari (siang dan malam) itu diwadahi oleh Majalah desanews bekerjasama dengan Litle Jip Owner Community (LJOC) yang berada dibawah naungan Indonesia Offroad Federation (IOF) Pengcab Bogor. Tiga pihak yang terlibat dalam kegiatan bertajuk “Jelajah Desa Pangan 4×4 (JDP)” ini ialah Kementerian Desa PDTT (Kemendes) dan Kementerian Pertanian (Kementan) serta Bank Nasional Indonesia (BNI 46). Disamping itu tercatat beberapa perusahaan yang terkait dengan dunia pertanian dan pedesaan juga ikut berkontribusi, diantaranya Corteva dan Allvin Top.

Ka Badan Ketahanan Pangan Kementan RI, Dr. Ir. Agung Hendardi, Kacab BNI 46 Cianjur, Kades Cijagang bersama Ketua JDP dan Pembina LJOC dalam kesempatan penyaluran bantuan hand traktor dan benih padi di Desa Cijagang Kab. Cianjur

Remote Area

Kegiatan JDP 4×4 Seri I tersebut sekaligus menguatkan, bahwa pembangunan nasional saat ini memang harus merata sampai ke desa-desa. Bahkan yang terpencil dan nyaris tak terjangkau sarana transportasi biasa.

Memang, secara umum, Jalur Puncak Dua telah dapat dilalui dan menjadi jalur alternatif dari Jakarta, Bogor dan Cianjur. Namun beberapa desa masih sulit dan sangat jarang dilalui kendaraan biasa. Selain kondisi jalan yang rusak (jalan tanah dan bebatuan), tanjakan dan turunan yang terjal mewarnai perjalanan JDP 4×4. Namun pada kenyataannya, desa-desa di sepanjang jalan memiliki potensi ekonomi yang tidak bisa dianggap remeh.

Sebut saja Desa Sukawangi, Kecamatan Sukamakmur – Kabupaten Bogor misalnya. seperti diungkapkan Sang Kepala Desa,  Endro Hermawanto, bahwa desa paling ujung dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur tersebut merupakan sentra produksi beberapa komoditas pertanian, seperti kopi, sayur-mayur, dan sebagian kecil padi sawah.

“Hampir seluruh warga kami di sini (99%) adalah petani,” jelas Endro. Hebatnya lagi, kegiatan pertanian di desa tersebut didominasi oleh kaum muda. Tanah yang subur plus tersedianya air sepanjang tahun (meski di daerah lain kekeringan), menjadi daya tarik warga desa untuk bertani.

“Dan hasilnya, mereka menikmati kemenangan dalam persaingan pasar disaat petani di sentra hortikultura lain gagal berproduksi,” tutur Kepala Desa. Sayangnya, comparative advantage yang dimiliki itu tidak terdukung dengan permodalan yang cukup. Jadi usaha taninya masih berkutat dalam skala terbatas. Selain itu, kendala transportasi pun mengurangi keuntungan. Belum lagi maraknya praktek tengkulak yang cukup menjerat petani di sentra agribisnis ini.

“Tiap hari sekitar 20 ton sayuran berbagai jenis dari sini dikirim ke Jakarta dan Kota Bogor,” kata Rahman, petani muda di Kampung Arca, Desa Sukawangi. Komoditas sayuran utama di kawasan Puncak Dua adalah wortel, kubis, selada, tomat, cabe keriting, dan brokoli. “Jika modal tersedia dan adanya bimbingan usaha yang baik, maka peluang peningkatan ekonomi masyarakat akan lebih besar lagi,” ucap petani muda tersebut.

Menanggapi kenyataan itu, BNI 46 menyatakan siap bergandengan tangan dengan petani di Kawasan Puncak Dua. “Lepaskan dasi, turun ke desa dan memberi solusi usaha tani.”  Demikian diungkapkan perwakilan dari BNI 46, Asvin, saat melepas keberangkatan Tim JDP – LJOC di kaki perbukitan Hambalang, Sentul – Bogor.

Seperti diketahui, bahwa hingga kini BNI 46 telah menyalurkan puluhan miliaran rupiah dana Kredit Usaha Rakyat (KUR Tani) di seluruh wilayah NKRI. Kebersamaan dan sinergi BNI 46 dalam JDP 4×4 kali ini pun, membuktikan besarnya kepedulian bank BUMN tersebut bagi petani dan kemajuan ekonomi di perdesaan.

Warga Desa Antusias

Iring-iringan (konvoi) mobil penjelajah, dengan bendera JDP 4×4, menjadi perhatian di sepanjang perjalanan. Para warga desa seperti terhibur. “Dan semoga raungan jip serta lambaian tangan kami (LJOC) kali ini bisa menggelorakan semangat di desa-desa,” tutur Dedi Nagara, pimpinan rombongan dan juga salah-seorang Pembina LJOC.

Menanggapi kegiatan JDP 4×4 itu, Ketua IOF Pengcap Bogor, Kol. Inf. Untung Purwadi, menyatakan apresiasinya. Melalui pesan Watshap, disampaikannya bahwa hal ini merupakan sisi lain yang tak kalah penting bagi IOF, selain penyaluran hobby adventure dan kompetisi di arena balap. “Hal-hal baik yang meliputi kepedulian masyarakat melalui bakti sosial, atau peran serta dalam pembangunan nasional seperti yang dilakukan LJOC, perlu kita kembangkan,” jelas Untung.

Lepas dari kesejukan dan panorama pegunungan yang menawan di Puncak Dua, memasuki wilayah Cianjur bagian pedalaman (bukan jalur aspal),  konvoi JDP berhadapan dengan tanjakan terjal berbatu, dan sejumlah desa yang sepi. Spot kedua yang dituju adalah Desa Cijagang (Cikundul), Kecamatan Cikalong Kulon, Kabupaten Cianjur. Di sini para awak JDP 4×4 disambut meriah, dengan keramahan para warga dan aparat desa, serta alunan musik tradisional khas Cianjur.

Dua hand tractor serta 1,2 ton benih padi dari Kementerian Pertanian terparkir di pelataran desa, untuk selanjutnya akan diserahkan ke Gapoktan di Desa Cijagang. Senyum dan antusias warga desa pun menghiasi.  Terlebih lagi saat Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan RI, Dr. Ir. Agung Hendardi, memberikan sambutan dan membangkitkan semangat petani. Dikatakannya, bahwa Indonesia harus semakin kuat dari sisi ketahanan pangan.

“Kejayaan beras Cianjur yang melegenda sejak dulu, harus diteruskan dan bahkan lebih ditingkan lagi,” jelas Agung.  Melalui mekanisasi (hand traktor) diharapkan petani Desa Cijagang mampu meningkatkan produksi. Selain itu, alih fungsi lahan pertanian harus dihindari, seperti yang ditekadkan oleh Sang Kepala Desa Cijagang, Asep Zulkarnain.

Ketua Pelaksana JDP 4×4, Tony Setiawan, mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang baik para stakeholders dalam kegiatan ini. Diharapkan upaya nyata di berbagai desa pelosok NKRI tersebut akan dapat memberi warna dan semangat bagi kemajuan desa khususnya, dan tentunya kejayaan bangsa Indonesia. Karena dominasi Indonesia adalah desa.

***Riz***