Indonesia saat ini merupakan eksportir kopi nomor empat di dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia.  Ini menunjukkan bahwa kopi sudah memberikan devisa berharga bagi negeri ini. Produksi kopi dalam 12 tahun cendrung menurun dengan laju 0.7% per tahun.  Pada tahun tertentu penurunan bisa lebih besar akibat penyimpangan iklim yang cukup ekstrim. Perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan frekuensi dan intensitas iklim ekstrim yang dapat menurunkan panen kopi secara signifikan.  Hal yang lebih mengkhawatirkan, kenaikan suhu yang terus terjadi dapat menyebabkan kopi tidak lagi dapat berproduksi dan pada saatnya nanti kita tidak lagi dapat menikmati lezatnya secangkir kopi.

Oleh: Prof. Dr. Rizaldi Boer

Direktur Eksekutif CCROM SEAP IPB

Kopi Indonesia sudah lama terkenal di dunia dengan citarasa yang khas dari setiap daerah penghasil kopi.  Kopi  Gayo – Aceh, Sidikalang – Sumatera Utara, Pangalengan – Jawa Barat, Kintamani – Bali, Toraja – Sulawesi Selatan, Wamena – Papua, dan kopi dari daerah lainnya di Indonesia memiliki rasa yang berbeda. Keanekaragaman rasa kopi di Indonesia menjadi salah satu daya tarik sehingga penikmat kopi tidak pernah bosan dan selalu mencoba berbagai rasa.   Beragamnya rasa kopi dari setiap daerah disebabkan oleh sifat biofisik yang berbeda seperti jenis tanaman dan satwa yang mendiami daerah tersebut.

Kopi yang hidup pada dataran tinggi akan berbeda rasanya dengan kopi dataran rendah. Kopi yang bersimbiosis dengan tanaman hutan akan berbeda rasanya dengan kopi yang berdampingan dengan pohon mangga, durian atau pohon buah-buahan lainnya. Begitu pula interaksi dengan fauna lainnya yang turut berpengaruh. Selain itu tentu saja kondisi iklim juga memberikan dampak terhadap rasa kopi dan produktivitasnya.  Kopi tertentu tidak bisa berproduksi atau produksi sangat rendah karena berubahnya kondisi iklim.

Pengamatan di Afrika selama 49 tahun terakhir menunjukkan adanya kenaikan suhu yang cukup konsisten dan menyebabkan penurunan produktivitas kopi yang cukup signifikan yaitu sebesar 46%.  Wilayah pertanaman yang sesuai untuk tanaman kopi juga semakin terbatas.  Di Indonesia, wilayah pertanaman kopi utama untuk jenis arabika umumnya pada wilayah dengan ketinggian di atas 1000 m d.p.l. sedangkan robusta antara 400-800 m d.p.l.

Upaya adaptasi yang dilakukan petani dengan naiknya suhu udara dan berubahnya pola hujan akibat perubahan iklim ialah mengembangkan wilayah pertanaman kopi baru ke wilayah yang lebih tinggi.  Wilayah dengan ketinggian di atas 1000 m d.p.l. umumnya di Indonesia umumnya masih berupa hutan dan berada pada kawasan lindung.  Penelitian yangh dilaksanakan oleh Tim peneliti IPB di wilayah Toba, Sumatera Utara, menemukan bahwa sudah banyak petani yang mengembangkan kebun kopinya ke wilayah yang lebih tinggi dan masuk ke wilayah hutan lindung, karena suhu lebih rendah dan masalah hama relatif lebih rendah.

Pada saat ini, sekitar 62% kebun kopi petani di Kabupaten Samosir berada di kawasan lindung.  Hasil prediksi yang dilakukan oleh Tim Peneliti IPB, apabila tidak ada upaya pencarian varietas yang lebih adaptif terhadap suhu tinggi, wilayah yang sangat sesuai (‘very suitable’) untuk pertanaman kopi yang sesuai di wilayah Toba akan bergeser ke ketinggian di atas 1500 m d.p.l.  Wilayah yang saat ini sangat sesuai untuk tanaman kopi akan menjadi tidak sesuai (unsuitable).   Hal ini berarti akan mengancam keberadaan hutan lindung.

Tantangan lain, terjadinya kenaikan suhu akibat perubahan iklim juga akan meningkatkan serangan hama penggerek buah kopi.  Pengamatan selama 10 tahun terakhir di wilayah Toba menunjukkan adanya tren kenaikan tingkat serangan hama ini.  Hasil proyeksi tim peneliti IPB menunjukkan bahwa tingkat serangan hama penggerek buah kopi akan semakin besar ke depan. Terjadinya kenaikan suhu akan menurunkan lama waktu yang diperlukan untuk menggandakan diri.

Pada saat ini di wilayah pertanaman kopi arabika (ketinggian 700-1500 m d.p,l), waktu yang diperlukan hama penggerek buah kopi untuk menggandakan diri antara 10 sampai 12 hari (hijau), di masa yang akan datang akan lebih singkat, yaitu hanya sekitar 4-5 hari (merah).  Dapat dibayangkan semakin cepatnya pertumbuhan populasi hama penggerek buah kopi, maka tingkat serangan hama akan semakin tinggi, dua sampai tiga kali lebih parah dari saat ini dan dapat membuat petani kopi tidak dapat lagi memanen kopinya.  Lebih lanjut hasil prediksi tim IPB, penurunan produktivitas kopi akibat perubahan iklim dapat mencapai lebih dari 50%.  Tanpa upaya adaptasi, produktivitas kopi pada wilayah pertanaman kopi saat ini tidak akan melebihi 0.5 t/ha.

Prasyarat Internasional

Dunia internasional saat ini semakin menyukai kopi Indonesia. Namum demikian, dunia internasional memiliki prasyarat-prasyarat dalam mengkonsumsi berbagai komoditi termasuk kopi. Perhatian negara-negara Eropa dan Amerika terhadap isu lingkungan akhir-akhir ini semakin besar. Untuk itu kopi Indonesia harus

mulai membenahi produksi kopi khususnya pada tahap budidaya dan pasca panen.  Negara-negara maju semakin peduli dengan isu deforestasi dan degradasi lahan.  Terjadinya perubahan iklim diprediksi akan membatasi wilayah pengembangan kopi ke wilayah yang lebih tinggi yang umumnya berada pada kawasan lindung dan berhutan.

Perilaku budidaya kopi pada daerah lindung dan konservasi dengan karbon tinggi akan berpengaruh terhadap perubahan iklim (PI). Negara-begara Uni Eropah pengimpor komoditas pertanian mensyaratkan bahwa dalam pengembangan kebun atau lahan pertanian tidak menyebabkan terjadinya konversi atau pemanfaatan lahan-lahan yang memiliki cadangan karbon tinggi seperti hutan.  Apabila pola pengembangan kebun kopi dengan pemanfaatan atau pembukaan lahan berhutan terus berlanjut maka akan berdampak pada citra kopi Indonesia di mata internasional. Untuk itu dibutuhkan strategi dalam pengembangan dan kajian teknologi sehingga kopi Indonesia lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan produksinya meningkat dengan citarasa terjaga, sehingga tetap laku di dunia.

Teknologi Adaptif Iklim untuk Petani Kopi

Beragamnya pengaruh perubahan iklim terhadap tanaman kopi, menimbulkan kekhawatiran banyak Negara penghasil kopi dan sudah barang tentu bagi para pencandu kopi.  Hilangnya kopi dengan cita rasa tertentu karena tidak lagi bisa dikembangkan akibat perubahan iklim, sudah menjadi perbincangan dunia.  Berbagai media melaporkan bahwa perubahan iklim sudah mengancam kopi.  Tanpa ada upaya adaptasi, bukan tidak mungkin dalam 30 tahun ke depan, banyak negara penghasil kopi saat ini tidak lagi bisa berproduksi, bahkan diprediksi 50 tahun ke depan, kita tidak lagi bisa menikmati secangkir kopi karena kopi tidak lagi bisa ditanam karena dengan terjadinya perubahan iklim, tidak ada lagi lokasi yang bisa ditanami kopi.

Oleh karena itu, diperlukan adanya varietas atau jenis kopi yang lebih tahan suhu tinggi, teknologi yang adaptif, tahan terhadap serangan hama dan memiliki produksi yang tinggi. Petani menunggu bimbingan dari parapihak, pemerintah dan ahli kopi.   Dari pengamatan lapangan, sebagian besar  petani kopi di wilayah Toba masih banyak yang belum menerapkan praktek-praktek budidaya pertanian dan manajemen yang baik.  Kegiatan pemangkasan misalnya jarang dilakukan petani, kalaupun ada tidak dilakukan secara kontinu atau bagian-bagian tanaman yang dipangkas tidak menentu, sehingga tanaman menjadi tinggi yang menyulitkan pada saat panen, cabang-cabang meranggas sehingga komposisi antara cabang-cabang bawah, tengah dan atas tidak seimbang dan proporsional lagi.

Kondisi ini menyebabkan umur ekonomisnya menjadi lebih singkat.  Penggunaan naungan juga banyak yang belum melakukannya, sementara tanaman kopi sangat memerlukan kondisi ini.  Pengendalian hama penggerek buah juga relatif tidak dilakukan dengan baik.  Buah yang rusak dan diserang penggerek buah banyak ditinggalkan dibiarkan jatuh di tanah sehingga menjadi sumber makanan bagi hama untuk terus berkembang.  Pengelolaan yang baik, ialah dengan memutus siklus hama dengan cara mengambil semua buah yang ada pada tanaman maupun yang jatuh di tanah dan dimusnahkan.  Cara pengendalian ini akan efektif apabila dilakukan oleh semua petani dalam suatu hamparan yang sama, kalau tidak hama PBKo hanya akan pindah dari satu kebun ke kebun lainnya.  Kurang diterapkannya praktek-prekter pertanian yang baik membuat tanaman kopi semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Momentum tingginya permintaan kopi dalam negeri, luar negeri dan persepsi positif masyarakat terhadap kopi yang ditandai dengan maraknya berbagai café-café kopi perlu disikapi dengan melakukan edukasi pada petani kopi. Petani yang terlanjur melakukan budidaya kopi pada areal konservasi dan lokasi yang memiliki stok karbon tinggi diharapkan tidak mengembangkan lagi pada daerah lain dengan kondisi sama. Perlu dicarikan lokasi budidaya kopi berupa daerah terdeforestasi atau stok karbon rendah dan dalam pengembangannya menggunakan tanaman naungan multiguna yang dapat menciptakan kondisi iklim mikro yang sesuai bagi kopi.  Namun demikian, pengembangan kebun kopi ke dalam wilayah berhutan tanpa merusak hutannya melalui program perhutanan sosial juga dapat dilakukan.