Inisiatif keberlanjutan tengah ramai berkembang di Indonesia, satu diantaranya adalah Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL). LTKL berhasil mengumpulkan komitmen beberapa kabupaten untuk mempraktikkan agenda pembangunan hijau di tingkat kabupaten. Termasuk di perkebunan kelapa sawit.

Semenjak resmi berdiri di akhir tahun 2014, Forum Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FoKSBI) aktif mendorong diskusi dan koordinasi lintas sektor untuk pembangunan kelapa sawit berkelanjutan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memfasilitasi penyusunan Rencana Aksi Nasional Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAN-KSB). Saat ini, RAN-KSB sudah selesai disusun dan tengah menjajaki tahap legalisasi untuk menjamin implementasi berjalan dengan baik.

FoKSBI daerah sudah terbentuk di tiga provinsi (Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Barat) dan tiga kabupaten (Pelalawan, Sintang, Tapanuli Selatan). Dari keenam FoKSBI daerah tersebut, Kabupaten Sintang dan Tapanuli Selatan sudah merampungkan penyusunan Rencana Aksi Kabupaten (RAK) Kelapa Sawit Berkelanjutan, sementara Kabupaten Pelalawan baru memasuki tahapan awal.

Untuk Rencana Aksi Provinsi (RAP), baik Riau, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat masih dalam proses finalisasi. Di sisi lain, inisiatif keberlanjutan tengah ramai berkembang di Indonesia, satu diantaranya adalah Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL). LTKL berhasil mengumpulkan komitmen beberapa kabupaten untuk mempraktikkan agenda pembangunan hijau di tingkat kabupaten.

Dalam diskusi sinkronisasi RAN, RAP, dan RAK bersama FOKSBI dan LTKL yang digelar di Hotel Aryaduta, Jakarta tersebut turut memberikan sambutan Dr. Ir. Kasdi Subagyono, MSc., Direktur Jenderal Perkebunan dan Dedi JunaediDirektur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian RI, serta Musdhalifah Machmud, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI.

RAN-KSB

Acara kemudian dilanjutkan dengan presentasi Rencana Aksi Nasional Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAN-KSB) oleh Ari Agung Prihatin, anggota tim kecil FoKSBI, dan diskusi yang dibagi ke dalam dua sesi.

Diskusi Sesi 1menghadirkan narasumber Patricia PasaribuTenaga ahli FoKSBI Sumut, Vera Virgianti, Kabid Perkebunan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau, Cahya DewiKabid Pengolahan, Pemasaran, dan Pembinaan Usaha Dinas Perkebunan Provinsi  Kalbar, serta moderator Ermanto Fahamsyah  selaku anggota tim kecil FoKSBI.

Sementara, Diskusi Sesi 2, menghadirkan narasumber Dodi Reza Alex NoerdinBupati Musi Banyuasin dan Ketua Umum Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Veronica AnciliKadis Perkebunan dan Pertanian, Sintang, Saulian Sabbih, Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan, Setda Tapanuli Selatan, dengan moderator oleh Gita Syahrani selaku Direktur Eksekutif Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL).

“Permasalahan kelapa sawit berkelanjutan memang cukup kompleks dan saling tumpang tindih. FOKSBI diharapkan bisa membantu proses penyusunan rencana aksi bersama di berbagai tingkat, sehingga permasalahan kelapa sawit berkelanjutan bisa kita kupas dan selesaikan satu per satu,” ungkap Musdhalifah Machmud.

Selanjutnya Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian itu menjelaskan, bahwa dalam pelaksanaannya, setiap daerah – baik di tingkat provinsi maupun kabupaten harus mampu mengidentifikasi dan membuat implementasi program yang paling sesuai dengan kondisi di daerah masing-masing.

Musdhalifah Machmud

“Selain dukungan dari sektor terkait, rencana aksi juga memerlukan dukungan dari sektor lainnya, sehingga bisa mendorong terciptanya kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia. Hal ini penting agar kelapa sawit tidak hanya berkontribusi terhadap ekonomi nasional saja, tapi utamanya dapat meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia secara nyata,” ungkap Musdalifah.

Sementara Kepala Bidang Perkebunan Provinsi Riau, Vera Virgianti, memaparkan bahwa pihaknya tengah mendata perkebunan kelapa sawit di Riau. “Riau memiliki hampir 1,3 juta hektar perkebunan kelapa sawit yang saat ini masih didata secara lengkap agar bisa menjadi bagian dari rencana aksi provinsi untuk pengembangan kelapa sawit berkelanjutan. Kebutuhan terhadap pendataan ini sangat penting karena merupakan landasan untuk melakukan berbagai intervensi untuk pengembangan kelapa sawit berkelanjutan ke depannya,” paparnya.

Harus Sinergi

Dr. Ir. Kasdi Subagyono, MSc

“Koordinasi sinergitas memang selalu jadi pekerjaan rumah kita bersama. Saya pribadi selalu menyambut baik inisiatif-inisiatif yang mengusung upaya sinergitas, terlebih yang fokus pada pendorongan praktik keberlanjutan. Besar harapan saya, inisiatif semacam ini bisa dibawa ke tahapan yang lebih implementatif, sehingga perlu ada proses lebih jauh dari lokakarya ini yang langsung bisa menghasilkan naskah kerja dan dokumen perencanaan,” ungkap Dr. Ir. Kasdi Subagyono, MSc., Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI.

 

Dodi Reza Alex Noerdin, Bupati Musi Banyuasin

Hal tersebut ditiompali pula oleh Dodi Reza Alex, Bupati Musi Banyuasin dan Ketua Umum Lingkar Temu Kabupaten Lestari. Dikatakannya bahwa dalam upaya pembangunan kelapa sawit berkelanjutan, kendala tersulit yang kami hadapi adalah ketersediaan dan kelengkapan data.

“Data menjadi sangat krusial, tidak hanya dalam proses pemetaan masalah dan penyusunan peta jalan kelapa sawit berkelanjutan, namun juga dalam menentukan langkah-langkah strategis yang mampu secara baik merefleksikan kekhasan permasalahan Muba,” jelas Dodi Reza.

***FJ/Riz***