Lahan gambut di Indonesia kini menjadi primadona topik perbincangan. Bukan hanya di dalam negeri tetapi berbagai lembaga internasional juga memberikan perhatian besar pada gambut Indonesia. Perhatian parapihak ini cukup beragam, ada yang melihat dari perspektif lingkungan, ekonomi dan ada juga yang dari sudut pandang sosial.

Banyak pihak yang mengkritik pengelolaan gambut di Indonesia tetapi tidak sedikit yang ingin bekerjasama melestarikan dan memanfaatkan gambut sebagai lumbung ekonomi. Perusahaan dibidang kehutanan, perkebunan dan juga energi terbarukan semakin melirik lahan gambut sebagai sumber ekonomi dan energi terbarukan.

Dilain pihak, pemerintah dan banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  nasional dan internasional ingin melakukan restorasi lahan gambut. Bukan hanya alasan lingkungan dan biodiversity tetapi juga tentang komitmen Indonesia kepada dunia. Ya, Indonesia secara resmi telah mengikrarkan komitmennya untuk menurunkan emisi CO2 sebesar 29% pada tahun 2030 dengan kemampuan dalam negeri. Untuk merealisasikan komitmen penurunan emisi ini, lahan gambut merupakan salah satu elemen penting.

Pada saat bersamaan, sudah muncul berbagai regulasi untuk merestorasi lahan gambut. Hal ini tentu saja berdampak signifikan bagi perusahaan-perusahaan dan masyarakat yang sudah mengelola lahan gambut. Lahan gambut yang selama ini menggerakkan roda ekonomi daerah, perusahaan dan masyarakat mulai dipertentangkan dengan isu lingkungan.

Haruskah selamanya gambut dijadikan arena pertarungan antara ekonomi dan lingkungan ? Tidak bisakah isu ekonomi dan lingkungan bersatu pada lahan gambut ?

Sudah saatnya berbagai riset menemukan solusi jitu agar gambut menjadi malaikat penyelamat untuk pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan dan pencapaian target penurunan emisi CO2 nasional. Pemerintah Indonesia perlu mengajak masyarakat, peneliti dalam negeri, lembaga donor dan negara sahabat untuk bersama-sama menemukan peta jalan bertemunya kepentingan ekonomi, lingkungan dan pemenuhan target penurunan emisi pada lahan gambut.

Indonesia membutuhkan formula ajaib dan efektif terkait aktivitas produktif pada lahan gambut yang mensinergikan berbagai kepentingan. Saatnya Indonesia memiliki kemerdekaan pengelolaan gambut tanpa harus terintimidasi kepentingan global. Justru aktivitas pada lahan gambut di Indonesia semestinya bisa menjadi acuan global  bahwa antara ekonomi dan ekologi di lahan gambut bukan rivalitas tetapi sinergitas saling menguntungkan. Mestinya kita bisa.

MRi***