Memaksimalkan Laut Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, yang terdiri dari 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 km dan luas sekitar 3,1 juta km2 (0,3 juta km perairan teritorial, dan 2,8 juta km2 perairan nusantara) atau 62% dari luas teritorialnya. Sebagian sumberdaya ini belum dimanfaatkan secara optimal. Misalnya saja potensi lestari sumberdaya perikanan laut sebesar 6,7 ton/tahun baru dimanfaatkan sebanyak 48%.

Disisi lain, dunia sedang dirisaukan dengan krisis energi yang kian menjadi. Energi fosil yang selama ini di andalkan berangsur menipis. Berbagai upaya dilakukan, sumber-sumber energi terbarukan pun semakin banyak dicari. Salah satu sumber energi laut yang potensial dijadikan sebagai energi terbarukan adalah rumput laut.

Rumput laut hidup dengan baik di perairan tropis seperti di Indonesia. Pada tahun 2010, produksi rumput laut Indonesia sebesar 3,5 juta ton dan terus meningkat menjadi 10,8 juta ton pada tahun 2015. Ia menjadi salah satu komoditas ekspor andalan di pasar dunia. Pada tahun 2017 Indonesia tercatat sebagai pengekspor rumput laut terbesar kedua di dunia setelah China.

Rumput laut juga merupakan salah satu sumberdaya laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Selain itu, ia juga mengandung berbagai macam komponen yang bermanfaat bagi kehidupan manusia antara lain protein, mineral, serat pangan, polisakarida bersulfat, fenol, pigmen dan selulosa.

Energi Terbarukan dari Laut

Menurut Prof. Dr. Ir. Joko Santoso, M.Si dalam Orasi Ilmiahnya di kampus IPB Dramaga, Bogor (29/4/2017) menyampaikan bahwa penggunaan rumput laut sebagai bahan baku dalam pembuatan bioenergi mempunyai beberapa keunggulan seperti;

rumput laut tidak bersaing dengan sumber bahan pangan; memiliki kandungan karbohidrat (gula) yang tinggi; tidak bersaing dengan lahan pertanian, perkebunan, kehutanan dan pemukiman dibandingkan dengan tanaman terrestrial lain; kandungan lignin yang relatif rendah,; serta memiliki produktivitas yang tinggi.

“Adapun jenis rumput laut yang digunakan untuk keperluan bioenergi adalah jenis yang tidak masuk kualitas bahan baku industri atau non-edible. Dapat juga digunakan hasil samping atau limbah dari industri pengolahan rumput laut.” ujar Prof. Joko.

Energi terbarukan yang dihasilkan rumput laut berupa biogas dan bioetanol. Biogas merupakan hasil akhir dari sebuah proses biodegradasi anaerobic. Komposisinya terdiri dari metana (CH4), karbondioksida (CO2), dan sedikit sulfur. Beberapa jenis rumput laut dan limbah industri yang menghasilkan biogas adalah spesies Ulva latuca dan Ulva sp., sedangkan beberapa spesies lain dapat menghasilkan biogas dan etanol sekaligus seperti Ascophyllum nodosum, Laminaria hyperborean, maupun Gracilaria verucosa.

Sementara bioetanol dibuat melalui tahapan hidrolisis polisakarida menjadi monosakarida, kemudian fermentasi monosakarida menjadi etanol dan tahapan terakhir pemurnian etanol. Dibandingkan tanaman darat lainnya, rumput laut mampu menghasilkan bioetanol sebanyak 3-23 kali lebih besar jumlahnya. Hal ini tentu saja menjadikan rumput laut sebagai bahan baku yang sangat potensial untuk pembuatan bioetanol. Berikut beberapa perbandingan antara rumput laut dengan tanaman darat lainnya dalam kapasitasnya menghasilkan bioetanol (Adam et al. 2009).

Penggunaan rumput laut sebagai salah satu sumber energi terbarukan adalah pilihan yang sangat tepat. Selain dapat menjadi salah satu cara mengatasi krisis bahan baku bioenergi, memanfaatkan rumput laut sama halnya dengan memaksimalkan kekayaan laut Indonesia.

***Yon***