Berpelesir ke Pulau Sumbawa, tak lengkap rasanya jika tidak singgah di Taman Nasional Gunung Tambora. Se­cara administrative kawasan Taman Nasional ini terletak di dua kabupaten yaitu Kabupaten Dompu dan Kabupat­en Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sebelum menjadi taman nasional, status kawasan terdiri atas Cagar Alam seluas 23.840,81 Ha, Suaka Margas­atwa seluas 21.674,68 Ha, dan Taman Buru seluas 26.130,25 Ha. Ditetapkan sebagai taman nasional melalui SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehu­tanan no 111/MenLHK-II/2015 pada tanggal 7 April 2015 dan diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 11 April 2015 bertepatan dengan peringatan 200 tahun letusan gunung Tambora.

Menjelajah taman nasional ini, ti­dak akan membuat kita henti bersyu­kur karena beragam potensi keaneka ragaman hayati yang dapat ditemui sepanjang perjalananan. Berbagai veg­etasi tumbuh dengan subur mulai dari beragam jenis pohon, epifit, herba, maupun tanaman perdu. Pun juga den­gan berbagai jenis satwa yang hidup di kawasan taman nasional seperti Rusa Timor, jenis reptile seperti Biawak dan Kadal Pohon, maupun jenis-jenis bu­rung endemik di NTB.

Menjelajah taman nasional ini dapat dimulai dari beberapa pintu pen­dakian. Biasanya, pendaki tak hanya sekedar jelajah hutan namun juga men­capai puncak Tambora untuk sampai di kawah kaldera. Beberapa jalur pendaki­an bias dipilih seperti Pendakian Piong, Kawindato’I dan Jalur Pancasila. Untuk mencapai puncak, diperlukan waktu tempuh 3 hari 2 malam dengan berja­lan kaki.

Jika memulai dari Pos Pancasila, kita juga bisa menghemat waktu perjalanan dengan menggunakan ojek motor hing­ga pos 1 dengan tarif Rp 50.000. Pun juga dengan jalur Dorocanga, kita bisa menjelajah hutan dengan kendaraan off road hingga sampai di pos 3. Kemu­dian melanjutkan perjalanan kepuncak yang hanya memerlukan waktu 2 jam perjalanan berjalan kaki.

 

***Yon***