Tidak bisa dipungkiri bahwa deforestasi di Indonesia tidak hanya terjadi pada kawanan hutan produksi tapi juga terjadi pada Hutan Konservasi dan Hutan Lindung. Selain deforestasi, konflik pengelolaan lahan juga terjadi pada semua kawasan hutan termasuk taman nasional. Berbagai usaha sudah pernah dicoba tetapi permasalahan terus muncul dan berkembang.

Wiratno – Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE)

Apakah sudah nasib taman nasional dan hutan lindung terus punya masalah? Tidak adakah metode baru yang bisa diterapkan untuk mengatasi berbagai persoalan taman nasional ? Mestinya setiap wilayah yang unik dengan masyarakat yang punya kultur berbeda perlu didekati dengan metode yang berbeda.

Wiratno – Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memiliki metode baru dalam pengelolaan taman nasional. Menurut Wiratno, “Konflik atas Kawasan konservasi harus diakui, masih ada. Semua pihak terutama pengelola Taman Nasional (TN) harus memiliki pendekatan-pendekatan yang bijak, mengedepankan penghargaan terhadap Hak Azazi Manusia (HAM) dan menghargai masyarakat sekitar hutan. Sudah tidak zamannya lagi menyelesaikan masalah dengan represif”.

Lebih lanjut Wiratno menyatakan, “Deforestasi di TN tetap terjadi selain akibat masyarakat juga karena adanya tokoh-tokoh daerah yang membuka lahan. Seorang tokoh setempat bisa membuka areal 20 – 50 ha. Jika beberapa tokoh membuka lahan maka kehilangan areal TN akan sangat tinggi. Untuk itu sekarang saatnya mengajak masyarakat, tokoh masyarakat dan parapihak sekitar TN untuk secara bersama-sama menjaga TN demi kepentingan bersama”.

Sekarang dalam mengelola TN dilakukan dengan perspektif baru. Menurut Dirjen KSDAE, sekarang TN memiliki 10 strategi pengelolaan TN. Sepuluh strategi tersebut yaitu:

  1. Masyarakat sebagai subyek
  2. Penghormatan pada Hak Azazi Manusia (HAM)
  3. Kerjasama lintas antar eselon 1.
  4. Kerjasama lintas kementerian
  5. Penghormatan nilai budaya dan adat
  6. Kepemimpinan multilevel
  7. Pengambilan keputusan berbasis sains.
  8. Pengelolaan berbasis resort
  9. Peghargaan dan pendampingan
  10. Organisasi pembelajar.

“Dengan adanya perspektif baru ini, diharapkan berbagai persoalan taman nasional bisa diatasi. Satu hal yang terpenting dari 10 strategi ini adalah pengelola dan pimpinan Taman Nasional harus sering ke lapangan. Jangan menyelesaikan maslaah hanya di atas meja”, tutup Wiratno sambil senyum semangat.

***MRi***