Mungkin tidak begitu banyak yang tahu, bahwa berbagai permasalahan strategis terkait biologi tropika di Asia Tenggara selama ini terus dikaji dan diamati oleh SEAMEO BIOTROP. Lembaga antar negara yang didirikan 6 februari 1968 itu memiliki peran penting dalam mengelola potensi keanekaragaman hayati tersebut secara berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat banyak.

Indonesia memiliki lahan dan kawasan hutan yang paling luas dan sumber biodiversity tertinggi di ASEAN. Tentu, hal ini harus dikelola dengan baik dan pemanfaatannya harus sustainable.

“Indonesia merupakan produsen buah pala terbesar di dunia, disamping kopi. Namun petani kita masih belum terampil dalam usaha budidayanya, seperti pada pengendalian hama dan penyakit buah pala dan cara panen,” ungkap Direktur BIOTROP, Dr. Indika Mansur, M For Sc, kepada GI di Bogor beberapa waktu lalu.

Dia pun menjelaskan bahwa disinilah salah-satu peran BIOTROP, dimana melalui pengamatan yang mendalam beserta pelatihan dan pendampingan membuat produksi buah pala Indonesia tetap meningkat dan selalu dapat diterima di pasar global.

Tak hanya itu. BIOTROP pun memiliki visi bagaimana supaya biodiversity yang dimiliki bisa dimanfaatkan secara tepat, memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah tanpa harus merusak lingkungan dalam pemanfaatannya.

Menurut Indika dari sudut pandang biodiversity, saat ini Indonesia sebenarnya belum melakukan ekspor, karena jenis produk yang dipasarkan selama ini adalah berasal dari biodiversity atau sumber genetiknya luar negeri, misalnya sawit, karet, dan kako semua itu bukanlah biodiversity milik Indonesia namun luar.

Justru selama ini biodiversity Indonesia telah dihabiskan, contoh kayu besi dan ebono yang merupakan biodiversity kita sendiri di babat dan habis oleh masyarakat dan pemerintah kita selama ini.

Berbicara tentang konservasi, dimana saat ini luas kawasan konservasi di Indonesia mencapai lebih kurang 270.000 km persegi. “Jika seandainya potensi tersebut juga kita manfaatkan dengan teknologi pengembangan biodiversity salah satunya dengan inovasi yang dihasilkan BIOTROP maka ini akan memberikan nilai tambah akan keberadaan sumberdaya tersebut,” ungkap ………..

“Oleh sebab itu BIOTROP mencoba untuk mengembangkan biodiversity lokal seperti komoditas atsiri (cengkeh dan pala) untuk sektor kehutanan dan rumput laut untuk masyarakat nelayan. Sementara untuk fauna BIOTROP melihat rusa menjadi peluang biodiversity lokal yang memiliki peluang pasar, contohnya peternakan rusa,” tambahnya.

Dia menunjuk contoh ke Rusia. Negara tersebut melakukan pengembangan dan mereka sudah mengekspor daging rusa. “Sementara kita masih terfokus pada kegiatan untuk konservasi, padahal disamping itu ada peluang pasar yang akan lebih memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah,” jelas Direktur BIOTROP.

Tiga Upaya

Ada tiga kegiatan yang dilakukan BIOTROP untuk mencapai visinya, yakni riset,  sosialisasi dan inovasi.

Di bidang riset BIOTROP tidak hanya memberi solusi tetapi juga memberikan nilai tambah terhadap produk dengan konsep green economic. Dimana riset yang ditawarkan akan selalu memberikan solusi di dua sisi mata uang, yaitu akan menghemat biaya sampai dengan nol rupiah atau akan memberikan pendapatan triliyunan rupiah. BIOTROP dalam mengasilkan riset dan teknologi  sudah mengadopsi konsep Green Economic dan juga sudah menuju Blue Economic.

BIOTROP pun terus melakukan sosialisasi hasil-hasil risetnya serta penyebarluasan teknologi dan inovasi melalui lembaga publikasi sendiri.***

DAP, Riz