Pada pertemuan CoP 23 di Jerman November 2015, Menteri BAPPENAS, “perencanaan pembangunan berkelanjutan ditandai dengan perencanaan pembangunan yang ditargetkan untuk memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi masa depan. Ini berarti bahwa pembangunan direncanakan dengan memelihara dan mempromosikan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan ekuitas dan pengentasan kemiskinan, sekaligus menjaga kualitas lingkungan dan ketersediaan sumber daya alam”.

Bappenas sebagai badan perencanaan pembangunan nasional memiliki peran strategis untuk memastikan pengarusutamaan isu perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan nasional, baik rencana jangka panjang, menengah, kementerian dan lembaga. Hal ini sejalan dengan Pasal 3.4. UNFCCC yang secara jelas menyatakan bahwa perubahan iklim baik kebijakan mitigasi dan adaptasi harus diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan negara.

Terkait kondisi Rencana Aksi Nasional Penurunan emisi Gas Rumah Kaca (RAN GRK), menurut Bambang S. Brojonegoro, “pada tahun 2015, Bappenas bersama dengan kementerian sektor terkait telah melakukan tinjauan terhadap kebijakan RAN-GRK, yang dilakukan dengan memperkuat integrasi program pembangunan dengan perubahan iklim. Kegiatan revisi ini termasuk untuk melihat aksi mitigasi yang relevan dan analisis trade-off antara pencapaian pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Tentu saja revisi ini dilakukan juga karena adanya perkembangan yang terjadi pada skala nasional dan internasional”.

Mengenai system pembangunan berkelanjutan, “pemerintah berupaya mewujudkan sistem pembangunan yang berkelanjutan dan tahan terhadap dampak perubahan iklim. Beberapa upaya telah dilakukan melalui integrasi Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API) ke dalam perencanaan pembangunan nasional dalam Perencanaan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Implementasi RAN-API melibatkan 17 kementerian teknis yang terkait dengan bidang ketahanan ekonomi, ketahanan sistem kehidupan, ketahanan ekosistem, ketahanan wilayah khusus, dan sistem pendukung. Analisis mengenai rencana aksi dan adaptasi iklim telah dilakukan pada 15 daerah uji coba yang ditetapkan dalam  RAN API, dengan melibatkan mitra pembangunan”, terang Bambang S. Brojonegoro secara detil.