Setiap negara dan semua pihak boleh memiliki penilaian masing-masing tentang penyelenggaraan CoP 23 Fiji – Bonn, Jerman. Ada beberapa pihak menyebutkan bahwa CoP 23 dianggap gagal karena tidak memiliki komitmen yang jelas. Tetapi beberapa pihak lain justeru menyatakan CoP 23 dianggap berhasil. Setiap pihak memiliki parameter dalam menilai hasil CoP 23.

Menteri Lingkungan Hidup Jerman, Barbara Hendricks memiliki pendapatnya sendiri tentang CoP 23. Menurut Barbara Hendricks bahwa CoP 23 sudah memenuhi harapan dari pemerintah Jerman untuk konferensi ini. “Semua orang bekerja untuk perlindungan iklim, semua orang ingin bergabung. Itulah semangat Paris. Ada landasan bersama baru tentang perlindungan iklim antara utara dan selatan, dan antara miskin dan kaya. Dan selama dua minggu ini (tanggal 6-18 November 2017), kami merasakan semangat baru di Bonn ini,” ucap Hendricks.Gambar

Meskipun banyak pihak yang merasa CoP 23 sudah berhasil mencapai misinya tetapi umumnya juga sepakat bahwa konferensi iklim global kali ini masih memiliki beberapa masalah untuk dipecahkan bersama. Diantaranya adalah dana adaptasi, model Dialog Talanoa dan permintaan Turki untuk pembiayaan iklim.

Secara umum peserta delegasi mengakui bahwa CoP 23 Fiji – Bonn, Jerman ini memiliki kemajuan dalam merancang buku panduan Paris Agreement. Beberapa pejabat negara menyatakan bahwa setiap pendapat delegasi negara dalam buku pedoman tersedia dalam bentuk teks, namun belum dipilah dan dinilai. Meskipun ada pernyataan yang kontradiktif, yang penting adalah memilikinya di atas kertas dan dapat mengerjakannya. Keberadaan Panduan Paris Agreement bisa diartikan jika tujuan konferensi telah tercapai dan akan ditindaklanjuti pada CoP 2018.